KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus menggelar salat Istisqa sebagai bentuk ikhtiar dan doa bersama untuk memohon turunnya hujan di tengah kondisi kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Jumat, 4 September 2026, setelah pelaksanaan salat Jumat, bertempat di halaman Pendopo Kabupaten Kudus.
Pelaksanaan salat Istisqa terbuka bagi masyarakat umum. Bupati Kudus Sam’ani Intakoris sebelumnya mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengikuti kegiatan tersebut sebagai upaya spiritual menghadapi kondisi kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah Kudus.
Kemarau panjang menjadi salah satu alasan utama Pemkab Kudus menggelar salat Istisqa. Kondisi minimnya hujan tidak hanya menyebabkan suhu udara terasa lebih panas, tetapi juga berpotensi menimbulkan kekeringan dan meningkatkan risiko kebakaran lahan.
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris mengatakan salat Istisqa menjadi salah satu bentuk ikhtiar untuk memohon kepada Allah SWT agar segera menurunkan hujan. Namun, hujan yang diharapkan bukan sekadar hujan, melainkan hujan yang membawa keberkahan serta tidak menimbulkan bencana.
Kegiatan tersebut juga menjadi momentum bagi masyarakat untuk bersama-sama melakukan introspeksi, memperbanyak doa, istighfar, serta memohon ampun kepada Allah SWT. Salat Istisqa merupakan salah satu tuntunan dalam Islam ketika terjadi kekeringan atau hujan tidak kunjung turun.
Kemarau Panjang Berdampak pada Masyarakat
Kondisi kemarau yang berlangsung cukup panjang mulai memberikan dampak di sejumlah wilayah Kabupaten Kudus. Berdasarkan pemberitaan yang memuat keterangan BPBD Kudus, selama dua bulan terakhir kekeringan telah menyasar empat desa dengan total 2.316 warga terdampak. Selain itu, pada periode Juli-Agustus 2026 juga tercatat 82 kejadian kebakaran hutan dan lahan di Kudus.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah. Selain menggelar salat Istisqa, Pemkab Kudus juga melakukan langkah antisipasi terhadap dampak kekeringan serta potensi kebakaran.
Salat Istisqa diharapkan menjadi ikhtiar bersama antara pemerintah dan masyarakat. Di sisi lain, upaya menghadapi kemarau tetap membutuhkan langkah nyata, mulai dari memastikan ketersediaan air bersih hingga meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas yang dapat memicu kebakaran.

Apa Itu Salat Istisqa?
Salat Istisqa adalah salat sunah yang dilakukan sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar diturunkan hujan ketika suatu wilayah mengalami kekeringan atau hujan tidak kunjung turun.
Kementerian Agama menjelaskan bahwa salat Istisqa dilakukan secara berjamaah dan memiliki tata cara yang menyerupai salat Id. Pelaksanaannya dapat dilakukan di tanah lapang dan tidak didahului azan maupun iqamah.
Secara makna, Istisqa merupakan bentuk pengakuan manusia atas keterbatasannya. Hujan merupakan salah satu kebutuhan penting bagi kehidupan, sementara manusia tidak memiliki kuasa untuk menentukan kapan hujan turun. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memohon kepada Allah SWT dengan penuh kerendahan hati.
Sebelum melaksanakan salat Istisqa, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak istighfar, bertobat, bersedekah dan melakukan amal kebaikan. Hal tersebut menjadi bagian dari upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT ketika menghadapi kondisi sulit.
Tata Cara Salat Istisqa
Secara umum, salat Istisqa dilaksanakan sebanyak dua rakaat secara berjamaah. Berikut tata caranya:
1. Berkumpul di tempat terbuka
Imam dan jamaah berkumpul untuk melaksanakan salat secara berjamaah. Salat Istisqa dapat dilaksanakan di tanah lapang dan tidak didahului azan maupun iqamah.
2. Membaca niat
Jamaah berniat melaksanakan salat sunah Istisqa dua rakaat karena Allah SWT. Niat dapat disesuaikan dengan posisi sebagai imam atau makmum.
3. Rakaat pertama
Setelah takbiratul ihram, imam melakukan takbir tambahan sebanyak tujuh kali, kemudian membaca Surah Al-Fatihah dan surah lainnya. Setelah itu, salat dilanjutkan sebagaimana salat pada umumnya, yakni rukuk, iktidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan seterusnya.
4. Rakaat kedua
Pada rakaat kedua, dilakukan lima kali takbir tambahan sebelum membaca Surah Al-Fatihah dan surah lainnya. Selanjutnya salat diteruskan hingga tahiyat akhir dan salam.
5. Khutbah Istisqa
Setelah salat, imam atau khatib menyampaikan khutbah. Dalam khutbah tersebut jamaah diajak memperbanyak istighfar, bertobat, memohon ampun dan berdoa agar Allah SWT menurunkan hujan yang bermanfaat.
Dalam tata cara yang dijelaskan Kementerian Agama, khutbah salat Istisqa terdiri dari dua khutbah. Pada bagian akhir khutbah, khatib dan jamaah dianjurkan memperbanyak doa dengan mengangkat tangan serta menghadap kiblat.
Memohon Hujan yang Membawa Keberkahan
Pelaksanaan salat Istisqa di halaman Pendopo Kabupaten Kudus pada Jumat siang tersebut bukan hanya menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga momentum untuk mengajak masyarakat menghadapi kemarau dengan kebersamaan.
Pemerintah dan masyarakat sama-sama berharap agar kondisi kekeringan segera berakhir. Hujan yang turun diharapkan dapat memenuhi kebutuhan air masyarakat, membantu sektor pertanian, menjaga ketersediaan air, sekaligus mengurangi risiko kebakaran yang meningkat selama musim kemarau.
Salat Istisqa menjadi pengingat bahwa di tengah berbagai upaya manusia dalam menghadapi kekeringan, umat Islam juga dianjurkan untuk senantiasa berdoa dan berserah diri kepada Allah SWT.
Dengan digelarnya salat Istisqa, Pemkab Kudus bersama masyarakat memanjatkan harapan agar hujan segera turun dengan membawa manfaat dan keberkahan bagi seluruh wilayah Kabupaten Kudus, tanpa menimbulkan bencana.
Di tengah kemarau yang panjang, doa bersama tersebut menjadi bentuk ikhtiar agar bumi kembali mendapatkan air, masyarakat terbebas dari kesulitan akibat kekeringan, serta aktivitas kehidupan dapat berjalan dengan lebih baik.






