Beranda / Lokal / Kembali Digelar, Festival Ampyang Maulid Kolaborasi UMKM dan Kesenian

Kembali Digelar, Festival Ampyang Maulid Kolaborasi UMKM dan Kesenian

KUDUS – Festival Ampyang Maulid kembali digelar di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Tradisi tahunan yang menjadi salah satu kekayaan budaya masyarakat Kudus tersebut berlangsung mulai 17 hingga 23 Agustus 2026.

Rangkaian Festival Ampyang Maulid tahun ini tidak hanya menghadirkan kegiatan keagamaan dan budaya, tetapi juga dimeriahkan dengan berbagai pentas seni serta kegiatan ekonomi masyarakat melalui bazar UMKM.

Sejumlah kegiatan dipusatkan di sekitar Masjid Wali At-Taqwa Loram Kulon, salah satu bangunan bersejarah yang memiliki kaitan erat dengan perkembangan Islam dan tradisi masyarakat setempat.

Masjid Wali Loram Kulon menjadi salah satu pusat kegiatan masyarakat dalam pelaksanaan tradisi Ampyang Maulid. Kawasan sekitar masjid juga dipenuhi aktivitas masyarakat dan pelaku usaha selama rangkaian festival berlangsung.

Gambar saat ini tidak memiliki teks alternatif (alt). Nama berkas: PXL_20260819_120049500.MP_.jpg-scaled.jpeg

Festival Ampyang Maulid Berlangsung Sepekan

Festival Ampyang Maulid Loram Kulon 2026 berlangsung selama beberapa hari, mulai 17 sampai 23 Agustus. Berbagai kegiatan disiapkan untuk menyemarakkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat luas.

Rangkaian acara diisi dengan pentas seni dari berbagai kalangan. Kehadiran pertunjukan seni membuat suasana festival tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga ruang bagi masyarakat untuk menampilkan kreativitas dan kesenian.

Selain pentas seni, masyarakat juga dapat menikmati keberadaan bazar UMKM yang berada di sepanjang jalan sekitar Masjid Wali Loram Kulon.

Bazar tersebut menjadi bagian penting dari festival karena memberikan kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan sekaligus menjual berbagai produk kepada pengunjung.

Dengan demikian, Festival Ampyang Maulid tidak hanya memiliki nilai budaya dan religi, tetapi juga memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat Desa Loram Kulon.

Konsep tersebut sebenarnya sejalan dengan perkembangan Ampyang Maulid yang dalam beberapa tahun terakhir tidak hanya menjadi tradisi masyarakat, tetapi juga berkembang sebagai kegiatan budaya dan wisata. Pemerintah Jawa Tengah mencatat Ampyang Maulid sebagai salah satu tradisi khas Loram Kulon dengan ciri utama kirab gunungan nasi kepel.

Apa Itu Ampyang Maulid Loram Kulon?

Ampyang Maulid merupakan tradisi masyarakat Desa Loram Kulon untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Nama Ampyang Maulid terdiri dari dua istilah. Ampyang dikenal sebagai jenis kerupuk tradisional berbentuk bulat dengan warna yang beragam, sedangkan Maulid merujuk pada peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Tradisi tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah perayaan yang identik dengan kirab berbagai tandu atau gunungan berisi makanan, termasuk nasi kepel, kerupuk ampyang, hasil bumi dan berbagai sajian masyarakat.

Salah satu ciri khas yang paling mudah dikenali dalam Ampyang Maulid adalah nasi kepel. Nasi tersebut dibentuk atau dikepal dalam ukuran tertentu dan biasanya disertai lauk yang dibungkus menggunakan daun.

Dalam pelaksanaan kirab, nasi kepel dan berbagai makanan tersebut dibawa menuju Masjid Wali untuk didoakan sebelum kemudian dibagikan kepada masyarakat.

Tradisi berbagi makanan inilah yang membuat Ampyang Maulid juga memiliki nilai sosial berupa sedekah, kebersamaan dan rasa syukur.

Sejarah Ampyang Maulid dan Sultan Hadlirin

Ampyang Maulid memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan perkembangan Islam di Desa Loram Kulon.

Sejumlah sumber sejarah dan penelitian menyebut tradisi tersebut berkembang sejak masa Sultan Hadlirin, tokoh yang dikenal memiliki peran dalam penyebaran Islam di wilayah Loram Kulon.

Salah satu penelitian mengenai Ampyang Maulid menyebut tradisi tersebut dikenalkan kepada masyarakat Loram Kulon sekitar tahun 1560-an dan pada awalnya menjadi bagian dari media dakwah Sultan Hadlirin.

Sementara sumber penelitian lain menyebut tradisi tersebut telah berlangsung sejak akhir abad ke-15 dan menjadi salah satu bentuk dakwah Islam di Loram Kulon. Karena terdapat perbedaan keterangan mengenai tahun awalnya, sejarah Ampyang Maulid lebih tepat dipahami sebagai tradisi yang berkembang sejak masa Sultan Hadlirin dan kemudian diwariskan secara turun-temurun.

Dalam perkembangannya, masyarakat memadukan pesan keagamaan dengan budaya lokal. Makanan dan hasil bumi yang dibawa dalam kirab menjadi sarana untuk berkumpul, bersedekah dan memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Tradisi ini kemudian terus berkembang hingga menjadi festival rakyat yang melibatkan masyarakat dari berbagai kalangan.

Penelitian mengenai Ampyang Maulid juga mencatat bahwa peserta yang dahulu lebih banyak berasal dari masjid dan musala di Loram Kulon, kini berkembang dengan melibatkan sekolah, organisasi, lembaga serta kelompok masyarakat dari luar desa.

Kirab Ampyang Maulid Digelar 25 Agustus

Setelah rangkaian festival berlangsung sejak 17 Agustus, perhatian masyarakat akan tertuju pada kirab Ampyang Maulid yang dijadwalkan berlangsung pada 25 Agustus 2026.

Kirab menjadi salah satu bagian yang paling ditunggu dalam tradisi Ampyang Maulid Loram Kulon.

Pada momen tersebut, berbagai gunungan dan tandu yang telah dipersiapkan masyarakat akan diarak menuju kawasan Masjid Wali. Masyarakat biasanya memenuhi sisi jalan untuk menyaksikan jalannya kirab.

Tradisi kirab menjadi daya tarik tersendiri karena setiap kelompok dapat menampilkan kreativitas melalui bentuk gunungan dan hiasan yang mereka bawa.

Selain nasi kepel dan kerupuk ampyang, berbagai hasil bumi, makanan tradisional hingga produk masyarakat dapat menjadi bagian dari sajian yang dibawa dalam kirab.

Sesampainya di Masjid Wali, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama sebelum makanan yang dibawa kemudian dibagikan kepada masyarakat.

Dalam pelaksanaan sebelumnya, pembagian nasi kepel menjadi salah satu momen yang paling menarik perhatian warga. Pada 2024, misalnya, panitia menyediakan sekitar 5.000 nasi kepel untuk dibagikan dalam rangkaian Kirab Ampyang Maulid.

Melestarikan Tradisi dan Menggerakkan UMKM

Festival Ampyang Maulid Loram Kulon bukan sekadar perayaan tahunan. Tradisi ini menjadi bagian dari upaya masyarakat dalam mempertahankan warisan budaya sekaligus memperkuat kehidupan sosial dan ekonomi warga.

Keberadaan bazar UMKM sepanjang jalan sekitar Masjid Wali selama rangkaian festival memberikan ruang bagi masyarakat untuk ikut mengambil manfaat dari kegiatan tersebut.

Produk makanan, kerajinan dan berbagai usaha lokal dapat diperkenalkan kepada pengunjung yang datang.

Perpaduan antara tradisi keagamaan, budaya, seni dan kegiatan ekonomi membuat Ampyang Maulid semakin dikenal sebagai salah satu daya tarik wisata budaya di Kabupaten Kudus.

Bagi masyarakat Loram Kulon, pelaksanaan Ampyang Maulid juga menjadi momentum untuk kembali mengingat sejarah leluhur serta nilai-nilai yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Kini, Festival Ampyang Maulid 2026 kembali menjadi ruang berkumpulnya masyarakat. Mulai dari pentas seni, bazar UMKM hingga puncaknya berupa kirab pada 25 Agustus mendatang.

Dengan tradisi yang terus dijaga, Ampyang Maulid diharapkan tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya Desa Loram Kulon dan Kabupaten Kudus, sekaligus memperkenalkan kekayaan tradisi lokal kepada generasi muda dan masyarakat dari luar daerah.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *