Oleh: M Kholidul Adib
lenteramuria.com, – Dalam catatan sejarah pesantren Futuhiyyah Mranggen, pada tahun 1927 K.H. Utsman Abdurrahman (Mranggen) yang baru pulang dari pesantren Lasem yang diasuh K.H. Ma’shum ikut membangun NU di Mranggen sekaligus dipercaya memimpin pesantren Futuhiyyah dengan dibantu oleh adiknya, K.H. Muslih, dan berusaha mendirikan madrasah di lingkungan pesantren Futuhiyyah.
Pada tahun 1928 madrasah yang baru berjalan satu tahun ini diminta NU Mranggen untuk merealisasikan program pendidikannya, tetapi perkembangan tersendat-sendat dan akhirnya hilang.
Selanjutnya tahun 1929 beliau mendirikan madrasah lagi, namun tidak lama dibedol lagi oleh NU Cabang Mranggen, dan nasibnya pun sama. Sekitar tahun 1931, pimpinan pesantren diserahkan kepada K.H. Muslih dan berhasil mendirikan madrasah yang tidak boleh dipindah atau dibedol. Setelah itu K.H. Muslih pergi mondok lagi dan kepemimpinan pondok diserahkan lagi kepada K.H. Utsman dan madrasah diserahkan kepada K.H. Murodi beserta para guru.
Setelah K.H. Muslih pulang dari Tremas sekitar tahun 1935 kepemimpinan pondok diserahkan kepadanya. Hal ini karena K.H. Utsman lebih memusatkan perhatiannya untuk dakwah keliling dan NU Cabang Mranggen, sedangkan K.H. Murodi melanjutkan belajar di Makkah.
Singkatnya dari informasi sejarah pesantren Futuhiyyah bahwa tahun 1927 NU sudah berdiri di Mranggen. Namun perlu dilacak apakah statusnya sebagai Cabang Mranggen atau NU Cabang Demak yang kantornya di Mranggen?
Hal ini masih perlu dilacak karena tahun 1927 Mranggen masih masuk wilayah Kabupaten Semarang (termasuk Guntur, Karangawen, Tegowanu, Gubug, Karangtengah, Sayung sejak tahun 1878 masuk wilayah Kabupaten Semarang yang kantor Bupatinya di Kanjengan Johar dan baru tahun 1928 dikembalikan lagi ke dalam wilayah Kabupaten Demak). Karena Mranggen era itu menjadi bagian dari Semarang sehingga para ulama Mranggen saat itu menyebut di belakang nama mereka ditambahi Al Maroqi As Samaroni (Mranggen Semarang).
Pada saat muktamar NU ke-4 tahun 1929 di Kota Semarang di wilayah Jawa Tengah sudah berdiri 27 cabang dan bisa jadi pada tahun ini NU cabang Demak atau Mranggen sudah berdiri.
Tahun 1936 diadakan Muktamar NU ke-10 di Banjarmasin dalam laporan panitia yang ikut iuran biaya Muktamar ada Cabang NU Demak dan ada nama Kasboen dengan alamat Mranggen sebagai donatur yang ikut iuran.
Kemudian jika tahun 1938 ada informasi bahwa ketua NU Cabang Demak yang pertama adalah K.H. Thoyib maka sesuai informasi yang kami dapatkan K.H. Thoyib yang dimaksud adalah putera K.H. Ibrohim Brumbung Mranggen teman seperjuangan K.H. Utsman dan K.H. Muslih Futuhiyyah karena K.H. Ibrohim Brumbung adalah guru K.H. Abdurrahman (pendiri Pesantren Futuhiyyah).
K.H. Thoyib memiliki putera 1 bernama K.H. Wahab Mahfudzi yang mendirikan pesantren Asy-Syarifah Brumbung Mranggen. K.H. Ibrohim Brumbung merupakan cicit dari Adipati Semarang bernama Kanjeng Adipati Surohadimenggolo V yang makamnya di belakang masjid Terboyo Semarang atau dikenal sebagai Sunan Terboyo.
Penulis: M Kholidul Adib, Ketua Lembaga Ta’lif wan Nashr (LTN) PCNU Kota Semarang Periode 2021-2026, dan Ketua Lembaga Ta’lif wan Nashr (LTN) PCNU Demak Periode 2007-2012.





