Dalam upaya menjaga tradisi mulia sebagai “Kampus Para Juara” agar fokus berprestasi, sebuah perguruan tinggi swasta di kawasan Pantura Timur daerah Kudus dikabarkan makin menegaskan sikap resmi akademiknya terkait dinamika organisasi luar.
Sejumlah oknum dosen atau pegawai kampus setempat tampak sangat berdedikasi mengingatkan agar para mahasiswa tak perlu repot-repot melirik pergerakan luar. Kampus secara tegas menyatakan bahwa tidak ada kewajiban sama sekali bagi mahasiswa mana pun—termasuk para penerima beasiswa jenis apa pun—untuk ikut bergabung dalam organisasi maupun kegiatan ekstra kampus.
Menurut desas-desus hangat di koridor kampus, himbauan “bebas kewajiban” ini dipandang sebagai bentuk perhatian yang sangat manis. Musababnya, berada di organisasi eksternal dikhawatirkan hanya akan menguras energi mahasiswa untuk urusan yang terlalu vokal, alih-alih fokus mengumpulkan piala untuk pajangan di etalase pendaftaran mahasiswa baru.
“Kami ini kan Kampus Para Juara. Lagipula, kampus sama sekali tidak mewajibkan mahasiswa—mau yang mandiri atau yang dapet beasiswa—buat ikut organisasi luar,” seloroh seorang oknum pegawai dengan nada protektif. “Daripada energi penerima beasiswa habis buat rapat organisasi eksternal sampai malam, kan lebih baik fokus menjaga Indeks Prestasi dan nyari piala. Kalau mereka ikut organisasi luar, nanti malah makin kritis. Kan repot kalau tiba-tiba paham hak-haknya dan mulai menanyakan hal-hal yang tidak perlu.”
Kebijakan “bebas dari kewajiban ekstra” ini pun dinilai sangat efektif untuk menjaga suasana kampus tetap sejuk dan setenang perpustakaan di hari libur. Seorang oknum dosen bahkan menyarankan agar potensi mahasiswa dialihkan ke ajang-ajang yang lebih terukur dan tidak memicu perdebatan.
“Dari pada pusing ikut kegiatan ekstra kampus yang tidak diwajibkan itu, lebih baik fokus ke ajang yang aman. Misalnya ikut Lomba Tepuk Tangan Terheboh atau Lomba Senyum Ramah Mahasiswa tingkat lokal. Itu jelas bikin nama kampus harum, aman dari riak politik kampus, dan pasti dapet juara,” ungkap sang dosen dengan senyum penuh apresiasi diri.
Dengan penegasan bahwa kegiatan ekstra kampus sama sekali bukan sebuah keharusan bagi siapa pun, para mahasiswa—khususnya para pemburu dan penerima beasiswa—kini diimbau untuk kembali ke khittah: datang, duduk manis, kejar piala, pertahankan beasiswa, dan lulus tepat waktu. Sebab bagaimanapun juga, juara sejati adalah mereka yang berhasil ukir prestasi tanpa perlu merepotkan diri dengan ideologi dari luar.





