KUDUS – Upaya melestarikan batik Kudus sekaligus mencari generasi penerus pembatik terus didorong melalui kegiatan edukasi bagi anak muda. Salah satunya diwujudkan melalui Workshop Membatik Tingkat Pemula yang digelar di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), Jumat (16/10/2026).
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Kudus, Lestari Moerdijat selaku Wakil Ketua MPR RI, dan Universitas Muria Kudus. Lebih dari 100 peserta yang terdiri atas siswa SMA, SMK, serta mahasiswa UMK mengikuti kegiatan tersebut.
Kehadiran para pelajar dan mahasiswa menjadi bagian penting dalam upaya memperkenalkan batik Kudus kepada generasi muda. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan tidak hanya mengenal batik sebagai produk budaya, tetapi juga tertarik mempelajari proses pembuatannya hingga kelak mampu menjadi pembatik yang terampil.
Acara tersebut dihadiri langsung oleh Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, Rektor Universitas Muria Kudus Prof. Dr. Ir. Darsono, M.Si., jajaran wakil rektor, serta M. Fadloli yang dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam dunia batik Kudus. Kehadiran berbagai pihak tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi untuk menjaga keberlangsungan warisan budaya daerah.
Lestari Moerdijat Dorong Lahirnya Pembatik Muda
Dalam sambutannya, Lestari Moerdijat menekankan pentingnya upaya pelestarian batik Kudus agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya. Menurutnya, keberadaan batik sebagai warisan budaya perlu diimbangi dengan lahirnya generasi penerus yang bersedia mempelajari dan meneruskan keterampilan membatik.
Melalui workshop ini, pencarian bibit-bibit pembatik muda menjadi salah satu tujuan utama. Generasi muda diharapkan memiliki kesempatan untuk mengenal dunia batik sejak dini, memahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya, serta mengembangkan ketertarikan terhadap keterampilan membatik.
Batik Kudus memiliki kekhasan yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat. Keberadaannya bukan sekadar menghasilkan kain bermotif indah, melainkan juga menyimpan nilai sejarah, kreativitas, dan keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun, pelestarian tradisi tidak bisa hanya mengandalkan keberadaan para pembatik yang sudah lama berkecimpung di bidang tersebut. Regenerasi menjadi kebutuhan penting agar pengetahuan dan keterampilan membatik tidak terputus seiring berjalannya waktu.
Karena itu, pelibatan pelajar dan mahasiswa dalam workshop ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk memperkenalkan batik Kudus secara lebih dekat. Dari kegiatan tersebut, diharapkan muncul anak-anak muda yang memiliki minat serius untuk mendalami keterampilan membatik.

KNPI Soroti Sulitnya Mencari Pembatik
Sementara itu, Ketua KNPI Kabupaten Kudus, Agus Kurniawan, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan dengan mempertimbangkan semakin sulitnya mencari pembatik saat ini.
Menurut Agus, kondisi tersebut menjadi perhatian tersendiri karena keberlangsungan batik Kudus membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan dan kemauan untuk meneruskan tradisi membatik.
Melalui kegiatan ini, KNPI ingin mengajak anak-anak muda untuk lebih mencintai batik sekaligus melihat peluang untuk terlibat langsung dalam pelestarian budaya daerah.
Bagi KNPI, pengenalan batik tidak cukup berhenti pada kegiatan seremonial. Diperlukan langkah lanjutan agar ketertarikan peserta dapat berkembang menjadi kemampuan nyata yang bisa digunakan untuk meneruskan tradisi membatik.
Agus menjelaskan, KNPI Kabupaten Kudus memiliki program yang bersifat sustainable atau berkelanjutan. Artinya, kegiatan workshop ini tidak dimaksudkan sebagai program yang selesai begitu acara berakhir, tetapi menjadi bagian dari upaya pembinaan generasi muda dalam jangka panjang.
Setelah kegiatan berlangsung, peserta yang berminat untuk mendalami dunia batik akan mendapatkan pembinaan dan pengajaran lebih lanjut. Mereka akan diarahkan agar dapat mengembangkan keterampilan membatik secara bertahap hingga menjadi pembatik yang andal.
KNPI juga membuka kesempatan bagi anak-anak muda yang ingin mengikuti pembelajaran batik melalui Batik Kembang. Program tersebut diharapkan menjadi ruang bagi peserta untuk memperdalam pengetahuan, berlatih, dan memperoleh pengalaman dalam proses membatik.
Dengan adanya pembinaan lanjutan, peserta yang awalnya hanya mengenal batik melalui workshop diharapkan memiliki kesempatan untuk mengembangkan minatnya menjadi keterampilan yang lebih serius.

Menjaga Batik Kudus agar Tetap Berkelanjutan
Pelaksanaan Workshop Membatik Tingkat Pemula di lingkungan kampus juga menjadi ruang pertemuan antara dunia pendidikan, organisasi kepemudaan, pemerintah, dan pelaku budaya. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk memperluas jangkauan edukasi sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda dalam pelestarian budaya.
Lebih dari 100 pelajar dan mahasiswa yang hadir menjadi sasaran awal untuk menumbuhkan kecintaan terhadap batik. Dari kalangan tersebut, diharapkan muncul peserta yang ingin melanjutkan pembelajaran hingga mampu menghasilkan karya batik sendiri.
Tantangan regenerasi pembatik menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya membutuhkan tindakan nyata. Selain mengenalkan sejarah dan motif, diperlukan kesempatan belajar yang dapat diakses oleh anak muda, pendampingan dari pembatik berpengalaman, serta keberlanjutan program setelah pelatihan dasar.
Melalui kolaborasi KNPI Kabupaten Kudus, Lestari Moerdijat, dan Universitas Muria Kudus, Workshop Membatik Tingkat Pemula diharapkan menjadi salah satu pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal lebih dekat batik Kudus.
Harapannya, semakin banyak anak muda yang tidak hanya bangga mengenakan batik, tetapi juga bersedia mempelajari proses pembuatannya dan meneruskan keterampilan tersebut. Dengan demikian, batik Kudus dapat terus bertahan sebagai warisan budaya sekaligus berkembang melalui kreativitas generasi penerus.
Praktik Langsung Membatik Jadi Penutup Kegiatan
Rangkaian Workshop Membatik Tingkat Pemula ditutup dengan praktik langsung membuat batik yang dipandu oleh M. Fadloli, salah satu tokoh penting batik Kudus.
Pada sesi ini, para peserta mendapatkan kesempatan untuk mengenal proses membatik secara langsung, tidak hanya melalui penjelasan materi. Dengan pendampingan M. Fadloli, para pelajar dan mahasiswa diajak mempelajari keterampilan dasar membatik sebagai bagian dari pengenalan terhadap warisan budaya daerah.
Praktik tersebut menjadi bagian penting dari kegiatan karena memberikan pengalaman nyata kepada peserta tentang proses kreatif di balik pembuatan batik. Mereka juga berkesempatan mengenal lebih dekat keterampilan yang selama ini menjadi bagian dari tradisi dan identitas budaya masyarakat Kudus.
Kehadiran M. Fadloli sebagai pemandu praktik diharapkan dapat membantu menumbuhkan ketertarikan peserta untuk mempelajari batik lebih mendalam. Pengalaman tersebut sekaligus menjadi langkah awal bagi anak-anak muda yang ingin melanjutkan pembelajaran melalui program pembinaan yang disiapkan KNPI Kabupaten Kudus bersama Batik Kembang.
Melalui praktik langsung ini, workshop tidak hanya menjadi ruang pengenalan budaya, tetapi juga membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mencoba keterampilan membatik. Harapannya, dari lebih dari 100 peserta yang mengikuti kegiatan tersebut, akan muncul calon pembatik muda yang siap belajar lebih lanjut dan ikut menjaga keberlangsungan batik Kudus.






