DEMANGAN — Edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan terus perlu dikenalkan kepada anak-anak sejak usia sekolah. Kesadaran untuk menjaga lingkungan tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga mencakup kemampuan mengenali jenis sampah, memilahnya, serta memahami dampaknya terhadap lingkungan.5
Hal tersebut menjadi salah satu tujuan dilaksanakannya kegiatan sosialisasi yang dilakukan Mahasiswa KKN 85 UIN SUKU bertajuk “Mari Menjaga Kebersihan Lingkungan” yang menyasar siswa sekolah dasar. Kegiatan tersebut dilaksanakan di SD NU Mafatihul Ulum pada Sabtu, 8 Agustus 2026, kemudian dilanjutkan di SDN Demangan pada Selasa, 11 Agustus 2026.
Kegiatan melibatkan siswa dan siswi sebagai peserta. Melalui penyampaian materi yang dikemas secara interaktif, para siswa diajak memahami bahwa kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang dapat dimulai dari kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Edukasi Kebersihan Lingkungan Sejak Dini
Kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan perlu dibangun sejak usia dini. Lingkungan sekolah menjadi salah satu tempat yang strategis untuk memberikan pemahaman tersebut karena siswa menghabiskan sebagian waktunya untuk belajar dan berinteraksi dengan teman-teman di sekolah.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai pentingnya lingkungan yang bersih, tetapi juga diajak memahami tindakan nyata yang dapat mereka lakukan.
Kebiasaan seperti membuang sampah pada tempatnya, tidak meninggalkan sampah di ruang kelas, menjaga kebersihan halaman sekolah, serta memilah sampah berdasarkan jenisnya merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan dampak positif apabila dilakukan secara konsisten.
Kegiatan sosialisasi “Mari Menjaga Kebersihan Lingkungan” juga menjadi sarana untuk menanamkan kesadaran bahwa kebersihan bukan hanya tugas petugas kebersihan sekolah. Seluruh warga sekolah memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang nyaman, sehat, dan bersih.
Siswa Dikenalkan Jenis-Jenis Sampah
Salah satu materi utama yang diberikan dalam kegiatan tersebut adalah pengenalan jenis-jenis sampah. Para siswa diberikan penjelasan mengenai tiga kategori sampah, yaitu sampah organik, sampah anorganik, serta sampah B3 atau Bahan Berbahaya dan Beracun.
Sampah organik merupakan jenis sampah yang berasal dari bahan alami dan pada umumnya dapat terurai secara alami. Contohnya antara lain sisa makanan, daun kering, kulit buah, dan berbagai sisa tumbuhan.
Sementara itu, sampah anorganik merupakan sampah yang umumnya membutuhkan waktu lebih lama untuk terurai. Contohnya dapat berupa botol plastik, kemasan makanan, kaleng, serta berbagai barang berbahan plastik lainnya.
Adapun sampah B3 merupakan jenis sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun sehingga perlu mendapatkan penanganan secara lebih hati-hati. Contohnya antara lain baterai bekas, lampu tertentu, serta beberapa produk rumah tangga yang memiliki kandungan bahan kimia.
Pengenalan ketiga jenis sampah tersebut diharapkan dapat membantu siswa memahami bahwa tidak semua sampah dapat diperlakukan dengan cara yang sama.
Belajar Memilah Sampah dari Hal Sederhana
Selain mengenalkan jenis sampah, siswa juga diberikan pemahaman mengenai cara sederhana memilah dan mengelola sampah. Pemilahan dapat dimulai dengan memisahkan sampah sesuai dengan kategorinya.
Kebiasaan tersebut dapat diterapkan di lingkungan sekolah maupun di rumah. Misalnya, siswa dapat mulai membedakan sampah sisa makanan dengan botol plastik atau kemasan makanan.
Dengan mengetahui jenis sampah, siswa diharapkan tidak lagi melihat semua benda yang sudah tidak digunakan sebagai satu jenis sampah. Pemahaman tersebut penting karena sampah yang telah dipilah dapat lebih mudah dikelola sesuai karakteristiknya.
Sampah organik, misalnya, dapat diarahkan untuk pengolahan yang sesuai, sementara sampah anorganik tertentu memiliki potensi untuk digunakan kembali atau didaur ulang. Sedangkan sampah B3 perlu dipisahkan dan tidak dibuang sembarangan karena memiliki risiko terhadap lingkungan maupun kesehatan apabila tidak ditangani dengan tepat.

Penyampaian Materi Dibuat Interaktif
Kegiatan sosialisasi diawali dengan pembukaan sebelum dilanjutkan dengan penyampaian materi mengenai kebersihan lingkungan dan pengelolaan sampah.
Materi disampaikan dengan pendekatan yang disesuaikan dengan usia siswa. Penyampaian secara interaktif membuat siswa lebih mudah mengikuti pembahasan dan memahami contoh yang diberikan.
Para siswa juga diajak menghubungkan materi dengan kondisi lingkungan yang mereka temui sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berhenti pada teori, tetapi dapat diterapkan dalam aktivitas sederhana.
Setelah pemaparan materi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Siswa diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan, pengalaman, maupun pemahaman mereka mengenai kebersihan lingkungan dan pengelolaan sampah.
Sesi tersebut menjadi salah satu bagian yang menunjukkan antusiasme siswa. Mereka mendapatkan ruang untuk berinteraksi sekaligus menguji pemahaman mengenai materi yang telah disampaikan.
Antusiasme Siswa Ikuti Sosialisasi
Kegiatan sosialisasi di SD NU Mafatihul Ulum dan SDN Demangan berlangsung dengan baik. Para siswa menunjukkan respons positif selama mengikuti rangkaian kegiatan.
Antusiasme tersebut menjadi indikasi bahwa edukasi mengenai lingkungan dapat diterima dengan baik apabila disampaikan menggunakan metode yang menarik dan mudah dipahami.
Pemahaman mengenai sampah juga diharapkan tidak hanya berhenti setelah kegiatan selesai. Para siswa diharapkan mampu menerapkan kebiasaan menjaga kebersihan dalam aktivitas sehari-hari.
Mulai dari membawa kebiasaan baik di sekolah, menjaga kebersihan kelas, membuang sampah pada tempatnya, hingga mengingatkan teman dan anggota keluarga mengenai pentingnya memilah sampah.
Menjaga Lingkungan Dimulai dari Kebiasaan Kecil
Kebersihan lingkungan pada dasarnya merupakan tanggung jawab bersama. Tidak harus dimulai dengan kegiatan besar, kepedulian terhadap lingkungan dapat dibangun melalui tindakan sederhana yang dilakukan secara rutin.
Membuang sampah pada tempatnya merupakan salah satu langkah paling dasar. Namun, kebiasaan tersebut dapat dikembangkan dengan memahami jenis sampah dan melakukan pemilahan sejak dari sumbernya.
Anak-anak sebagai generasi penerus memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan tersebut. Ketika kesadaran menjaga lingkungan ditanamkan sejak sekolah dasar, diharapkan kebiasaan positif dapat terbawa hingga mereka tumbuh dewasa.
Sekolah juga memiliki peran strategis dalam membentuk karakter peduli lingkungan. Edukasi melalui kegiatan sosialisasi dapat menjadi pelengkap dari kebiasaan menjaga kebersihan yang diterapkan dalam aktivitas sekolah sehari-hari.

Diharapkan Diterapkan di Sekolah dan Rumah
Melalui sosialisasi “Mari Menjaga Kebersihan Lingkungan”, siswa diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Pengetahuan mengenai sampah organik, anorganik, dan B3 diharapkan dapat menjadi bekal bagi siswa untuk mulai melakukan pemilahan sampah secara sederhana.
Lebih jauh, siswa juga diharapkan mampu membawa kebiasaan tersebut ke lingkungan keluarga. Dengan demikian, edukasi yang diperoleh di sekolah dapat memberikan dampak lebih luas bagi lingkungan sekitar.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat membutuhkan keterlibatan semua pihak. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi langkah penting dalam mengurangi masalah sampah dan menjaga kelestarian lingkungan.
Dengan adanya kegiatan edukasi seperti ini, diharapkan semakin banyak siswa yang memiliki kepedulian terhadap kebersihan lingkungan. Dari sekolah, kebiasaan baik tersebut dapat diteruskan ke rumah dan lingkungan masyarakat, sehingga terbentuk generasi yang lebih sadar, peduli, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.





