DEMANGAN — Permasalahan sampah rumah tangga menjadi salah satu perhatian yang perlu mendapatkan penanganan bersama, termasuk limbah popok sekali pakai atau diapers. Tingginya penggunaan diapers dalam kehidupan sehari-hari membuat jumlah limbah yang dihasilkan terus bertambah. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN Kelompok 85 Desa Demangan menggelar kegiatan Sosialisasi Pengolahan Limbah Diapers pada Rabu, 12 Agustus 2026. Kegiatan berlangsung di Aula Balai Desa Demangan dengan melibatkan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) serta Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).
Kegiatan tersebut menghadirkan Shofwatun Nada, M.Pd. sebagai narasumber. Selain mendapatkan penjelasan mengenai persoalan limbah diapers, peserta juga diajak mengikuti praktik langsung pengolahan limbah tersebut menjadi bahan yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembuatan kompos.

Limbah Diapers Jadi Perhatian
Penggunaan popok sekali pakai memang memberikan kemudahan bagi keluarga, terutama yang memiliki bayi atau anak kecil. Namun, di balik kemudahan tersebut terdapat persoalan berupa limbah yang sulit dikelola apabila langsung dibuang tanpa pemilahan dan penanganan yang tepat.
Dalam pemaparannya, Shofwatun Nada menjelaskan besarnya potensi limbah diapers yang dihasilkan dalam lingkungan masyarakat. Menurutnya, jumlah tersebut dapat mencapai ratusan popok setiap hari.
“Sehari bisa menghasilkan 400–600 limbah popok, sedangkan dalam satu bulan mencapai 18.000–20.000 limbah popok dalam satu desa,” ujarnya.
Angka tersebut menunjukkan bahwa limbah diapers bukan persoalan kecil. Apabila terus bertambah tanpa adanya upaya pengelolaan, sampah popok dapat menambah beban lingkungan dan sistem pengelolaan sampah di tingkat desa.
Karena itu, diperlukan edukasi kepada masyarakat agar limbah rumah tangga, termasuk diapers, dapat dikelola dengan lebih bertanggung jawab.
Masyarakat Dikenalkan Alternatif Pengolahan
Sosialisasi yang dilakukan mahasiswa KKN 85 tidak hanya berisi penyampaian materi. Peserta juga mendapatkan kesempatan untuk melihat dan mempraktikkan secara langsung proses pengolahan limbah diapers.
Praktik tersebut menjadi bagian penting dari kegiatan karena masyarakat tidak hanya memperoleh informasi mengenai permasalahan sampah, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai alternatif pengelolaannya.
Dalam kegiatan tersebut, limbah diapers diolah dengan memanfaatkan bagian gel yang terdapat pada popok. Gel tersebut kemudian diproses dan dicampurkan dengan bahan lain untuk membantu proses pengomposan.
Tahap pertama dalam praktik adalah membersihkan popok dan mengeluarkan gel. Setelah dipisahkan, gel kemudian dikeringkan sebelum masuk ke tahap berikutnya.
Proses tersebut dilakukan dengan hati-hati agar bahan yang akan digunakan dapat dipersiapkan dengan baik. Setelah gel kering, peserta kemudian menyiapkan larutan aktivator.

Praktik Membuat Kompos dari Limbah Diapers
Larutan aktivator yang digunakan dalam praktik terdiri dari 100 mililiter EM4, 100 mililiter molase, dan 1 liter air. Ketiga bahan tersebut dicampurkan hingga menjadi larutan yang siap digunakan dalam proses pengolahan.
Gel diapers yang telah dikeringkan kemudian dicampurkan dengan larutan aktivator tersebut. Setelah tercampur, bahan tersebut ditambahkan tanah dan diaduk hingga merata.
Tahapan pencampuran menjadi salah satu bagian penting dalam praktik karena seluruh bahan perlu tercampur dengan baik. Peserta dapat melihat secara langsung bagaimana bahan dari limbah diapers diproses melalui beberapa tahapan sebelum disimpan.
Setelah campuran selesai dibuat, bahan tersebut kemudian disimpan di tempat tertutup. Proses pengomposan membutuhkan waktu kurang lebih satu hingga dua minggu hingga kompos dianggap selesai dan siap digunakan sesuai peruntukannya.
Praktik tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman baru bagi masyarakat dalam melihat pengelolaan sampah dari perspektif yang berbeda.
Dorong Masyarakat Lebih Peduli Lingkungan
Ketua panitia kegiatan, Ana Khoirunnisak, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada tahap sosialisasi saja. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, masyarakat perlu memiliki kesadaran untuk mengelola sampah rumah tangga dengan lebih baik. Dengan adanya pemahaman mengenai alternatif pengolahan limbah, masyarakat diharapkan tidak hanya membuang sampah, tetapi juga mulai memikirkan bagaimana sampah tersebut dapat dikelola.
“Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada tahap sosialisasi, tetapi dapat diterapkan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Ana.
Ia berharap masyarakat Desa Demangan dapat semakin peduli terhadap lingkungan melalui kebiasaan mengelola sampah dari rumah.
Keterlibatan BKKBN dan PKK dalam kegiatan tersebut juga menjadi bagian penting dalam memperluas edukasi kepada masyarakat. Keluarga memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan pengelolaan sampah karena sebagian besar sampah rumah tangga berasal dari aktivitas sehari-hari.

Pengelolaan Sampah Dimulai dari Rumah
Pengelolaan sampah yang baik pada dasarnya dapat dimulai dari tingkat rumah tangga. Masyarakat dapat belajar mengenali jenis sampah yang dihasilkan sekaligus mencari cara pengelolaan yang sesuai.
Limbah diapers menjadi salah satu contoh sampah rumah tangga yang membutuhkan perhatian khusus. Dengan meningkatnya penggunaan popok sekali pakai, diperlukan edukasi agar masyarakat memahami cara penanganan yang lebih aman dan bertanggung jawab.
Melalui kegiatan KKN ini, mahasiswa Kelompok 85 Desa Demangan berusaha memberikan pengetahuan sekaligus praktik yang dapat menjadi salah satu alternatif solusi.
Meski demikian, pengolahan limbah diapers perlu memperhatikan kebersihan, sanitasi, dan keamanan selama prosesnya. Bahan popok bekas juga perlu ditangani secara hati-hati karena telah bersentuhan dengan kotoran dan cairan tubuh. Kompos hasil pengolahan juga perlu digunakan secara tepat sesuai prosedur yang aman.
Edukasi mengenai hal tersebut menjadi penting agar inovasi pengelolaan sampah tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga tetap memperhatikan kesehatan masyarakat.
Menuju Desa Demangan yang Lebih Berkelanjutan
Kegiatan Sosialisasi Pengolahan Limbah Diapers di Desa Demangan menjadi salah satu bentuk kepedulian mahasiswa KKN Kelompok 85 terhadap persoalan lingkungan di tingkat masyarakat.
Melalui perpaduan antara penyampaian materi dan praktik langsung, peserta mendapatkan pemahaman mengenai besarnya persoalan limbah diapers sekaligus alternatif pengolahannya.
Kegiatan tersebut juga menunjukkan bahwa persoalan sampah membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah desa, masyarakat, PKK, lembaga terkait, serta generasi muda dapat bekerja sama untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih baik.
Ke depan, edukasi mengenai pengelolaan sampah diharapkan dapat terus dilakukan secara berkelanjutan. Masyarakat dapat mulai membangun kebiasaan memilah dan mengelola sampah dari rumah sehingga jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan dapat dikurangi.
Bagi Desa Demangan, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan limbah rumah tangga. Limbah diapers yang selama ini menjadi salah satu persoalan dapat dikenalkan melalui pendekatan pengolahan yang lebih bermanfaat, sekaligus mendorong masyarakat untuk semakin peduli terhadap lingkungan.
Dengan pengetahuan, praktik, dan partisipasi masyarakat, upaya menciptakan Desa Demangan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan dapat terus dikembangkan. Pengelolaan sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau petugas kebersihan, melainkan tanggung jawab bersama yang dapat dimulai dari rumah masing-masing.





