KUDUS – Kabupaten Kudus resmi mencatatkan prestasi baru di bidang kebudayaan. Sebanyak 670 penari Tari Lajur Caping Kalo berhasil memecahkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai pertunjukan Tari Lajur Caping Kalo dengan peserta terbanyak.
Pemecahan rekor tersebut berlangsung pada Sabtu (26/9/2026), sebagai salah satu agenda rangkaian Hari Jadi Kabupaten Kudus ke-477. Kegiatan berlangsung meriah dengan melibatkan ratusan penari dari berbagai kelompok yang tampil secara kolosal.
Sebelumnya, sebanyak 680 penari dari 136 grup dipersiapkan untuk mengikuti pertunjukan tersebut. Setelah melalui proses verifikasi, sebanyak 670 peserta dinyatakan memenuhi ketentuan dan tervalidasi dalam pencatatan rekor MURI.
Capaian tersebut menjadi momentum penting bagi Kabupaten Kudus dalam memperkenalkan sekaligus melestarikan kekayaan budaya daerah melalui pertunjukan seni yang melibatkan masyarakat secara luas.
670 Penari Tervalidasi MURI
Perwakilan MURI, Ari Andriani, menyampaikan bahwa setelah dilakukan proses verifikasi, terdapat 670 peserta yang memenuhi ketentuan untuk dicatatkan dalam rekor.
Pencapaian tersebut bukan hanya dicatat sebagai rekor tingkat nasional, tetapi juga menjadi Rekor Dunia MURI.
Penetapan ini menjadi semakin istimewa karena Tari Lajur Caping Kalo merupakan karya seni yang mengangkat salah satu kekayaan budaya khas Kabupaten Kudus.
Tari tersebut mengangkat unsur tradisi caping kalo, yang memiliki keterkaitan dengan kehidupan masyarakat Kudus. Melalui gerakan tari yang dilakukan secara bersama-sama, nilai kebersamaan dan semangat pelestarian budaya ditampilkan dalam sebuah pertunjukan kolosal.
Sebelum pemecahan rekor, berbagai persiapan telah dilakukan, termasuk pelaksanaan festival dan pertunjukan Tari Lajur Caping Kalo. Rangkaian tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan tarian kepada masyarakat sekaligus membangun keterlibatan generasi muda dalam pelestarian kebudayaan daerah.

Dihadiri Wamen Kebudayaan Giring Ganesha
Momen pemecahan rekor tersebut turut dihadiri Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Giring Ganesha Djumaryo bersama istrinya, Cynthia Riza.
Kehadiran Wamen Kebudayaan menambah semarak kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi Kabupaten Kudus ke-477 tersebut.
Selain itu, hadir pula Bupati Kudus Sam’ani Intakoris bersama Ketua TP PKK Kabupaten Kudus Endhah Sam’ani Intakoris, jajaran Pemerintah Kabupaten Kudus, perwakilan MURI, pimpinan PT Nojorono Tobacco International, serta Yayasan Karya Bakti Nojorono.
Keterlibatan berbagai pihak tersebut menunjukkan adanya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, pelaku seni, dunia usaha dan berbagai elemen lainnya dalam upaya menjaga keberadaan budaya lokal.

Bupati Sampaikan Potensi Kudus
Dalam sambutannya, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah ikut mengambil bagian dalam menyukseskan pemecahan rekor tersebut.
Menurutnya, keberhasilan kegiatan tidak terlepas dari kolaborasi berbagai pihak yang telah ikut mempersiapkan dan menyukseskan pertunjukan Tari Lajur Caping Kalo.
Dalam kesempatan tersebut, Sam’ani juga menyampaikan sejumlah potensi yang dimiliki Kabupaten Kudus, mulai dari sektor wisata, kebudayaan hingga kuliner.
Tidak hanya itu, Bupati juga menyampaikan sejumlah program terbaru yang tengah dikembangkan pemerintah daerah. Salah satunya adalah rencana membawa Kabupaten Kudus menuju konsep health tourism.
Pengembangan tersebut nantinya didukung pembangunan gedung Kudus Sehat yang direncanakan memiliki berbagai fasilitas pendukung, termasuk area seperti pusat perbelanjaan dan tempat kuliner.
Konsep tersebut diharapkan dapat memperluas potensi Kudus sehingga tidak hanya dikenal melalui wisata religi, budaya dan kuliner, tetapi juga memiliki pengembangan sektor kesehatan yang dapat menjadi bagian dari daya tarik daerah.

Giring Apresiasi Budaya Kudus
Sementara itu, Wamen Kebudayaan Giring Ganesha turut memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan Tari Lajur Caping Kalo secara kolosal.
Kegiatan tersebut dinilai menjadi bagian dari upaya masyarakat dalam menjaga dan memperkenalkan kebudayaan daerah.
Dalam sambutan singkatnya, Giring juga menyampaikan bahwa ke depan Kabupaten Kudus akan mendapatkan perhatian dalam pembenahan sejumlah fasilitas kebudayaan dan sejarah. Di antaranya adalah Museum Kretek dan Museum Situs Purbakala Patiayam.
Museum Kretek memiliki keterkaitan erat dengan sejarah perkembangan industri kretek di Kudus. Sementara Situs Purbakala Patiayam menjadi salah satu kawasan penting yang menyimpan peninggalan sejarah dan kepurbakalaan.
Dukungan terhadap pembenahan fasilitas tersebut diharapkan dapat semakin memperkuat keberadaan Kudus sebagai daerah yang memiliki kekayaan sejarah dan kebudayaan.

Suasana Meriah dan Khidmat
Saat prosesi Tari Lajur Caping Kalo dimulai, suasana kegiatan terasa semakin meriah sekaligus khidmat.
Ratusan penari tampil secara serentak dengan mengenakan busana dan perlengkapan khas yang telah dipersiapkan. Gerakan para penari terlihat mengikuti koreografi secara bersama-sama.
Antusiasme juga terlihat dari para peserta yang mengikuti setiap rangkaian tarian dengan penuh semangat.
Masyarakat yang berada di sekitar lokasi turut menyaksikan pertunjukan tersebut. Tepuk tangan dan sorakan terdengar ketika para penari berhasil menyelesaikan rangkaian gerakan.
Setelah proses verifikasi dilakukan, 670 penari akhirnya resmi tercatat dalam Rekor Dunia MURI.
Bagi Kabupaten Kudus, pencapaian tersebut menjadi salah satu kado istimewa dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Kudus ke-477.
Lebih dari sekadar pemecahan rekor, pertunjukan tersebut menjadi momentum untuk memperlihatkan bahwa kekayaan budaya lokal dapat dikembangkan menjadi sebuah pertunjukan kolosal yang melibatkan masyarakat secara luas.
Tari Lajur Caping Kalo kini memiliki catatan baru. Sebanyak 670 penari berhasil tampil bersama dan mengantarkan Kabupaten Kudus mencatatkan Rekor Dunia MURI melalui pertunjukan budaya yang mengangkat identitas lokal.






