KUDUS – Semangat membangun budaya membaca dan memperluas ruang interaksi masyarakat melalui literasi menjadi salah satu fokus dalam kegiatan Safari Literasi Jawa yang digelar di Kabupaten Kudus. Kegiatan tersebut mempertemukan pegiat literasi dari berbagai komunitas untuk mendorong lahirnya inovasi literasi yang lebih terbuka dan dekat dengan masyarakat.
Dalam sambutannya, Mutrikah, Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kabupaten Kudus, menyampaikan gagasan untuk menghadirkan Pasar Literasi yang rencananya digelar setiap hari Sabtu.
Pasar Literasi tersebut dirancang bukan sekadar sebagai tempat jual beli buku, tetapi menjadi ruang bagi masyarakat untuk bertransaksi, berinteraksi, berbagi pengetahuan, berkarya, dan mengenalkan berbagai produk maupun kegiatan kreatif.
“Pasar literasi ini nantinya menjadi ruang bersama. Apa pun boleh digelar dan diperjualbelikan selama memberikan manfaat serta membuka ruang interaksi bagi masyarakat,” ungkap Mutrikah.
Gagasan tersebut diharapkan menjadi sebuah konsep baru yang belum diterapkan di daerah lain di Indonesia. Pasar Literasi akan memberikan kesempatan kepada masyarakat, komunitas, pelaku UMKM, seniman, penulis, hingga pegiat pendidikan untuk ikut berpartisipasi dan menggelar dagangan maupun karya mereka.
Kegiatan Safari Literasi Jawa juga dihadiri Gol A Gong, Duta Baca Indonesia, yang turut memberikan semangat kepada para pegiat literasi untuk terus mengembangkan gerakan membaca dan menulis di tengah masyarakat.
Acara tersebut diikuti oleh 59 komunitas literasi. Kehadiran puluhan komunitas ini menjadi bukti bahwa gerakan literasi di Kabupaten Kudus memiliki potensi besar untuk terus berkembang melalui kolaborasi dan inovasi.
Melalui Safari Literasi Jawa, diharapkan muncul berbagai gagasan baru yang mampu menjadikan literasi bukan hanya aktivitas membaca buku, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial, ekonomi, budaya, dan kreativitas masyarakat.
Rencana Pasar Literasi setiap Sabtu pun diharapkan dapat menjadi ruang publik baru di Kudus yang mempertemukan berbagai kalangan, sekaligus menjadi wadah tumbuhnya ekosistem literasi yang inklusif dan berkelanjutan.





